Find This Blog

Translate

Follower's

Jumat, 30 November 2012

V. Liontin dan Kerajaan Wales

Hampir satu minggu Vincent menetap di rumah keluarga Ivana, bersama Elly dan Allyana. Beruntung keluarga kecil itu berkenan mengizinkan Vincent menempati sebuah gudang tua yang terpisah dari bangunan utama. Semula gudang itu digunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian dan beberapa buah rongsokan traktor yang dahulunya adalah mesin yang digunakan Aitor, ayah Ivana dalam mengolah lahan pertaniannya. Sementara itu berbagai profesi telah diperankan Vincent, mulai dari bertukang, berdagang, atau sekedar sebagai membantu mengangkut barang-barang bawaan siapapun yang membutuhkan bantuan tenaganya. Berburu, menangkap ikan dan memetik buah-buahan di hutanpun tak lantas membuatnya lelah.

Siang itu sangat terik, Vincent yang datang membawa sekaleng madu dari hutan berusaha melepaskan penatnya seraya memberikan madu tersebut kepada Ivana. Elly mendatangi Vincent dengan membawa segelas air putih, agaknya gelas dari kayu itu terlalu besar untuk ukuran tangannya yang membuat elly kesusahan dalam berjalan. Vincent segera bangkit dan mengambil air tersebut dari tangan elly. Sambil tersenyum Vincent berkata, “terima kasih tuan putri”. Setelah duduk dan di ikuti Elly yang ikut duduk disebelahnya hanya diam dengan wajah lugunya. “kenapa seluruh tubuhmu basah Vincent?”, tanya Elly yang terus memperhatikan Vincent meneguk air putih tersebut.

Vincent meletakkan gelas kayu tersebut tak jauh dari duduknya dan berkata, “sehabis bekerja keras kau pasti akan berkeringat, bukankah sehabis berlari seluruh tubuhmu akan merasakan panas dan berkeringat? “tapi kan kau laki-laki?”, Elly memang belum mengerti akan hal itu dan terus menanyai Vincent untuk menemukan jawaban yang ingin ditanyakannya tersebut. Vincent pun tersenyum, namun belum sempat ia berujar dari dalam muncul Ivana dengan membawa handuk dan perbekalan mandi dalam sebuah ember kayu. Sambil memberikannya kepada Vincent, Iva mengusap lembut rambut Elly, dan berkata “laki-laki dan perempuan sama saja anak manis, keringat adalah hasil dari pembakaran lemak energi yang terjadi dalam tubuh kita. Nanti kau juga akan mengerti akan banyak hal di sekolahmu”.

Vincent membuka bajunya, baju yang kemaren diberikan Ivana kepadanya adalah milik Aitor yang sudah sangat using tapi terlihat serasi dengan perawakan Vincent. Mengingat pakaian yang selama ini menutup bahu kekar dan dada bidangnya sudah sangat tidak layak untuk digunakan lagi. Elly duduk dipangkuan Vincent, dengan manja anak itu mengamati dan meraih liontin yang tergantung bersama kalung dileher Vincent. Elly menatap dalam liontin itu dan bertanya, “apa kau tau apa yang tertulis dikertas yang ada didalam benda ini?” Ia terus membolak-balik liontin yang berisi cairan berwarna ungu itu. “entahlah, aku juga tak pernah tau, ini hanya pemberian Ayah angkatku sewaktu aku pergi”, jawab Vincent sambil tersenyum sambil menggosok-gosok kepala anak kecil berambut merah itu. Ivana mengambil Elly dari pangkuan Vincent, “Vincent akan segera mandi, bermainlah dihalaman depan dengan Boo dan Bii” kata Iva kepada adik sepupunya, Boo dan Bii adalah dua ekor babi putih peliharaan mereka.

Sementara sebelum mandi, Vincent juga teringat akan liontin yang diberikan Will kepadanya itu, perlahan dilepaskannya kalung itu melewati kepalanya, satu persatu rambutnya yang mulai panjang tersangkut dirantai perak itu sehingga dengan susah payah ia harus melepaskannya satu-satu. Kembali Vincent duduk ditepi pancuran, dan sangat teliti mengamati bagian dalam dari liontin itu. Air pancuran itu sangat jernih, tak ada yang tahu dari mana air yang tak pernah susut apalagi mengering itu datangnya walaupun musim kering telah melanda beberapa bulan. Telah hampir satu jam, Vincent belum juga kembali dari pancuran dan tentu saja itu menjadi pertanyaan besar Ivana yang sedari tadi sudah duduk dan menunggu dimeja makan bersama ibunya dan Elly. Spageti yang tadinya mengeluarkan asap cukup banyak sudah berangsur berkurang asapnya. Ivana berdiri dan mencoba menghampiri Vincent yang membuat acara makan siang mereka terlambat. Beberapa langkah saja Ivana berjalan, dari kejauahan sudah tampak Vincent berjalan kearahnya disamping ilalang tinggi dan hamparan perkebunan luas yang berdinding sebuah bukit bersalju abadi yang samar hampir tak terlihat dari sana.

Vincent terlihat berjalan terpogoh-pogoh karena pandangan matanya memang tak sepenuhnya menghadap kejalan itu, pikirannya masih menerawang dan sesekali kembali memperhatikan liontin yang memang terlihat aneh bergantung dileher gelapnya. Akibat menginjak sebuah batu, Vincent terjatuh dan menimpa sebuah bekas potongan kayu yang sudah beberapa minggu tumbang akibat angin kencang. Liontin yang berada tepat didepannya itu pecah dan menumpahkan seluruh isinya. Pecahan-pecahan kaca tipis sebagai wadah dari cairan ungu tadi melukai dada dan leher dari Vincent, Iva yang melihat kejadian iu segera bergegas dengan langkah besarnya setengah berlari ke arah Vincent. Sesampai disana, Ivana hanya terdiam yang melihat Vincent mengembangkan sebuah gambar yang hampir sejengkal orang dewasa itu. Dahi Vincent terlihat semakin berkerut memandangi dan membolak-balik bagian depan dari bagian kulit sapi yang digores dengan menggunakan tinta hitam itu. Gadis itu berhenti dan tak mendekat lagi, mereka berjarak hampir sepuluh meter karena mungkin Iva tak mau mencampuri privasi Vincent.

Iva memutar tubuhnya dan melangkah pelan kembali ke rumahnya, namun Vincent yang melihat hal itu mencoba menghentikan langkah Ivana dengan memanggilnya, “Ivana, maaf jika membuat Allyana dan anda harus menunggu lama”. Iva pun berhenti tapi tidak menolehkan kepalanya kebelakang, dan menjawab “tak apa-apa, makan sing sudah siap dan segeralah datang ke meja makan”. Vincent pun mengikuti langkah kaki Ivana menuju rumah. Tak banyak hal yang Vincent ataupun yang Iva lakukan sehari itu, terlihat Vincent lebih banyak menyendiri dan berpikir menerawang jauh. Sebuah gambar yang bertuliskan nama-nama yang berbentuk seperti sebuah ranting-ranting kayu yang semakin kebawah semakin banyakemakin banyak. Dibagian atasnya tertulis sangaat besar “The Prince Of Wallace”. Satu persatu nama-nama itu memang terdengar dan terlihat asing olehnya, sampai penelusurannya dikertas itu terhenti oleh sebuah nama…….William Wallace, dan nama terakhir Ellena Wallace.

IV. Aitor dan sejuta harapan



Jalan utama yang menghubungkan kediaman Moratti menuju pusat kota memang cukup bersih dan tertata, namun dipinggiran jalan ditumbuhi rumput dan ilalang yang sangat tinggi serta melewati beberapa hutan yang cukup lebat. Jalan itu tak pernah dilewati siapapun dengan berjalan kaki karena jaraknya yang memang sangat jauh, butuh perjalanan lebih dari satu jam dengan menggunakan kereta kuda untuk sampai dikediaman keluarga Moratti. Iva berjalan semakin lambat akibat kelelahan dengan Elly juga sudah terlelap dan tersandar lemah dibahunya. Tak ada kereta kuda yang lewat, karena jalan itu hanya menuju satu-satunya tempat yaitu kediaman Moratti dan tak ada rumah-rumah penduduk disekitarnya.

Setetes demi setetes keringat yang mengucur dibawah teriknya mentari bercampur dengan air mata yang semakin lama semakin tak tertahankan. Namun suara hentakan kaki kuda dari sebuah kereta kuda dari arah belakang membuat Iva terpaksa menghapus air mata yang menggenang dipipinya, bulu mata yang jatuh namun tersegarkan hingga warna gelap disekitar bola matanya tak mampu menyembunyikan bahwa Iva telah mengeluarkan banyak air mata. Kereta kuda itu berhenti tepat di samping Iva yang juga menghentikan langkah pelannya menelusuri jalan itu. Terlihat Edward tersenyum kepadanya sambil melepaskan topi hitam dikepalanya. “naaf Nona, sebaiknya anda saya antar pulang” ujar sang sais kereta dengan nada sopan. “Teman anda sudah menunggu didalam” timpal Edward. Belum sempat Ivana berkata, muncul Vincent dari balik pintu kereta dan tersenyum kepadanya. “maafkan saya Nona, karena keberadaan saya membuat anda harus telat untuk sampai dirumah” suara Vincent lirih.

Walau Vincent tersenyum, namun Iva sangat yakin bahwa Ia masih dapat membaca situasi dimana Vincent masih mencoba meredam rasa perih dan sakit akibat insiden tadi. Iva sangat cepat menangkap secuil bias dimata Vincent yang membuatnya merasa bersalah meninggalkan Vincent sendirian di kediaman keluarga moratti yang merupakan tempat baru dan asing bagi pendatang baru itu. Ivana menundukkan kepalanya, “saya yang harus meminta maaf kepada anda, karena meninggalkan anda sendirian Tuan” terdengar suara pelan Iva. “disana saya tidak sendirian Nona, Anda tidak salah apa-apa dan tak ada yang perlu saya maafkan” ucap Vincent dengan nada sangat sopan. “biar saya yang menggendong Elly, anda sudah sangat kelelahan” lanjut Vincent. Vincent mengambil Elly yang sedang lelap dalam tidurnya setelah turun dari kereta. Dan mempersilakan Iva untuk naik terlebih dahulu.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan kerumah Ivana setelah Vincent meminta kepada Edward. Kereta kuda itu melaju dengan sangat lembut, langkah dan hentakan kaki kuda-kuda itu juga terdengar halus menandakan sangat terlatihnya kuda-kuda itu dalam menarik kereta tersebut. Tak terasa mereka sudah sampai dipersimpangan jalan besar dipinggiran kota Venezia. Setelah sampai di kediaman keluarganya Ivana juga meminta Vincent untuk tinggal bersama mereka sampai kondisinya membaik. Vincent yang saat itu masih belum seratus persen pulih, mengucapkan terima kasih dan salamnya untuk Keluarga Moratti kepada Edward yang diperjalanan mengejar Ivana tadi sudah bercerita panjang kepadanya bahwa Edward berasal dari kerajaan Inggris yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Edward juga bercerita tentang siapa Aitor dan Ellena kepada Vincent. Aitor saat ini masih dipekerjakan sebagai penjaga kuda disebuah Istal milik keluarga Moratti di Florence, sebenarnya juga sangat lama ingin kembali ke Venice dimana keluarganya telah lama menunggu kepulangannya.

Namun Aitor bukanlah tanpa alasan, Ia dan Ferdinand Moratti yang saat itu bertugas dipangkalan udara Amerika Serikat Pearl Harbour di Hawaii, diserang ribuan pesawat Jepang di awal 1945 harus terluka parah sampai mengalami kerusakan sebagian besar wajahnya dan kakinya. Sedangkan Moratti hanya mengalami luka patah tulang lengan dan harus kehilangan tiga jari tangan kanannya. Hal itulah yang setiap saat membuat Aitor sangat terpukul dan trauma yang mendalam sehingga niatnya untuk kembali harus Ia kubur dalam-dalam. Walaupun sebagian besar wajahnya sudah dioperasi, namun tak akan ada yang mengenalinya dan akan terasa sangat asing jika Ia harus kembali berkumpul bersama Allyana. Perasaannya yang terpukul juga memikirkan bagaimana anak-anak mereka akan dapat menerima Ayah yang menurutnya sudah sangat berbeda. Sampai saat ini pun Aitor belum mengetahui bahwa anaknya, William telah meninggal dunia karena Kholera, namun Ia pasti tak akan pernah tau dan terpikir bagaimana Ivana tumbuh dewasa menjadi seorang gadis pintar dan berpendidikan.

III. Kediaman Keluarga Moratti

Kereta kuda itu memasuki sebuah gate besar dan menelusuri pekarangan luas yang didalamnya terdapat sebuah kolam besar dimana bermain angsa-angsa putih dan hitam di antara teratai-teratai yang tampak berbunga, airnya mengkristal sangat jernih memantulkan setiap detail permukaan langit dan bumi dari setiap sudut pandangnya. Disepanjang jalan berdiri pohon pinus yang sejajar dengan jalan menuju kediaman keluarga Moratti, terkesan sebagai sebuah istana yang membuat gugup setiap mata yang melihat halamannya yang sangat luas. Kereta berhenti dengan sangat lembut, tak terasa pintu kereta sudah terbuka.

Ellena menyingkapkan tirai emas kereta kuda itu, menandakan bahwa mereka telah sampai namun terlihat Vincent masih belum sadarkan diri dari pingsannya. “panggil Alex dan Eddy”, kata tuan Federico kepada Edward yang sejak tadi berdiri di muka pintu kereta. “baik tuan muda”, lalu Edward berbalik dan melangkah cepat. Iva yang memangku Elly masih duduk berdiam diri,. kepala Vincent yang bersandar dipaha Federico masih sedikit mengeluarkan darah meski terlihat sudah membeku hingga jas mewah yang Federico gunakan terlihat sedikit kusut.

Dari koridor panjang di depan mereka, muncullah Edward dan di ikuti 2 orang berbadan besar dan mengenakan jubah perpaduan warna merah dan hitam, sekilas terlihat seperti seorang rahib atau para pendeta di Vatikan. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah, koridor yang terlindung panas itu dihiasi dengan ukiran-ukiran melingkar bertemakan binatang dan tumbuhan-tumbuhan yang seolah-olah merambat dan hidup di sepanjang koridor itu.

Elly yang sama sekali tidak mengerti akan seluk beluk sebuah hunian pun tak luput berdecak kagum, karena tak pernah ia melihat yang seperti itu sebelumnya. Dua orang tadi ikut membantu Edward mengangkat Vincent menuju kearah yang berlawanan dengan koridor tadi, diikuti langkah kaki Federico. Sedangkan Ellena mengajak Iva sambil memegangi tangan Elly berjalan beriringan. Matahari mulai memancarkan cahaya cerah agak kekuningan, menandakan sore telah menanti, sementara kepala Elly masih memandang koridor berukir tadi walaupun langkah kakinya terlalu besar mengikuti Ellena sampai-sampai Elly tersandung berkali-kali oleh bebatuan dijalanan yang mereka lewati. Akhirnya sebuah teras besar menanti mereka, beranda yang dikelilingi tanaman sejenis lily beraneka macam warna.

Pintu berwarna Emas sangat besar untuk ukuran lima sampai enam orang yang melewatinya, dipinggir-pinggirnya dipadu dengan gorden berwarna putih. Setelah sampai di ruang tengah yang terlihat sangat besar dengan berbagai ornamen-ornamen mewah perpaduan nuansa klasik dan modern, membuat Elly dan Iva terkesima. Mereka baru berhenti mengagumi keindahan ruangan tersebut setelah Ellena mempersilakan mereka untuk duduk. Sementara itu Vincent masih belum sadarkan diri, Ellena dengan sangat cekatan mengeluarkan obat-obatan dari kotak putih berukuran sebesar tas tangan. Perban, kapas, obat merah, dan air panas dalam sebuah panci kecil. Sambil membersihkan luka memar dan noda darah di bibir Vincent, Ellena mengatakan bahwa Ia adalah seorang lulusan sekolah perawat kesehatan di Inggris walaupun belum pernah bekerja. Setelah selesai, perlengkapan itu dimasukkan kembali ke dalam kotak putih tersebut, lalu datang pengawal yang menggunakan jubah merah hitam tadi sambil membawa sebuah nampan berwarna emas dengan ukiran-ukiran klasik kerajaan di pinggirnya, di atasnya sebuah teko yang juga berwarna emas dan sebuah piring kecil berisi aneka kue-kue sementara di tangan nya empat buah gelas yang di jepit di antara jari-jari tangan kirinya.

Pengawal tersebut pergi sambil membungkukkan kepala, lalu menghilang di balik ujung ruang tamu tersebut. Di tengah-tengah dinding sebelah barat terdapat sebuah lemari besar seperti etalase berisi piala-piala yang kata Danielle merupakan prestasi nya sebagai atlet berkuda sewaktu berkuliah di sebuah Universitas di Berlin, Jerman Barat. Di sebelah timur terdapat pintu besar dengan jendela-jendela klasik yang di bingkai dengan gorden berwarna putih sehingga sangat serasi dengan kuzen jendela dan pintunya yang berwarna emas, terhubung dengan sebuah beranda besar yang menghadap matahari terbit, Tak lama berselang terdengar rintih dari Vincent yang mulai mencoba membuka kelopak matanya yang mungkin sudah sekitar satu setengah jam terlelap akibat benturan dan pukulan tadi. Dengan di bantu Danielle, Vincent mencoba mengangkat kepalanya, Vincent sedikit merasa pusing dan perih di ujung bibir bawahnya yang tadi mengeluarkan darah. “Anda sekarang berada di rumah saya, maaf atas kejadian tadi”, kata Danielle membuka pembicaraan. Namun mungkin saja Vincent belum mau mengucapkan sepatah katapun atau ia memang belum terlalu nanar akibat hantaman di kepalanya. “Anda istirahat saja di sini dahulu, kamar untuk anda sedang kami siapkan” lanjut Danielle. Dengan suara pelan Iva mencoba membuka suara, “maaf tuan, kalau tidak keberatan saya mohon diri terlebih dahulu, besok pagi-pagi saya akan datang kembali melihat keadaan Vincent”.

“sudah terlalu sore saat ini, mungkin keluarga saya sudah cemas akan keberadaan Elly” lanjut Ivana. “Baiklah, tapi Ellena sedang menyiapkan makanan untuk kita dan nanti saya akan suruh Edward untuk mengantar anda sampai ke rumah” jawab Danielle sambil tersenyum ramah.

Benar saja, tak lama berselang Ellena datang dan mengajak kami ke ruang makan kediaman keluarga Moratti itu, lalu Ellena mendatangi Danielle dan Vincent yang berbaring berhadapan dengan Iva,
 “Bagaimana kondisi anda sekarang tuan?” tanya Ellena pada Vincent dengan suara lembut dan tersenyum. Lalu menuangkan teh ke gelas yang ada di meja tamu yang mungki besarnya sebesar kamar di rumah Iva.

“Saya tidak apa-apa nona, maaf jika saya merepotkan anda”, jawab Vincent dan kembali mencoba untuk duduk. “mungkin ada baiknya jika saya juga harus pamit tuan, karena saya harus menemui seseorang” lanjut Vincent sambil menundukkan kepalanya kearah Danielle.

Setelah menghela nafas dalam, Danielle menatap Iva dan memulai pembicaraan, “tadi anda berkata bahwa anda bernama belakang Petterson, nona?”. Dan menatap Ivana yang hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan itu. “Kami punya seorang perawat kuda pacuan di Florence, orangnya sangat baik bernama Aitor. Kami sudah menganggap beliau sebagai keluarga sendiri karena beliau adalah orang yang menyelamatkan nyawa Ayah saya saat perang baru pecah.

 Mendengar nama Ayahnya di sebutkan oleh Danielle, Ivana menggigil, air matanya jatuh entah itu perasaan senang atau sedih karena ia sendiri tak tau bagaimana mengekspresikan perasaannya saat ini, semua yang ada dalam ruangan itu terdiam, tak mampu berkata apapun saat itu. Air mata Iva perlahan sudah menggenang di cekungan bola mata biru itu, jarinya coba menangkap satu-persatu tetesan yang mengalir deras di pipinya.

Iva mencoba bicara, “saya harus pulang, maaf saya. Aitor adalah nama Ayah saya, keluarga kami sudah lama kehilangan dan ia tak pernah kembali sejak pergi ke medan perang saat saya masih berusia 6 tahun. Jadi mungkin saya sudah sangat lupa bagaimana saya mempunyai seorang Ayah dan saya seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah saya miliki”. Iva melangkah sambil memegang tangan Elly dan bergegas tanpa mampu di tahan siapapun yang ada dalam ruangan itu, karena mereka hanya bias diam seribu bahasa.

II. Ivana dan Insiden dengan Bangsawan.

Kembali ke pelataran taman kota, Vincent merebahkan diri di bangku panjang putih yang mungkin dapat di tempati lima sampai enam orang itu. Tapi siang itu hanya beberapa orang saja yang lalu lalang, hanya dia saja yang menempati bangku itu, hingga ia mencoba memejamkan mata namun kembali tersentak oleh anak-anak yang berlari dan bersorak tak jauh dari tempatnya berbaring. Mata itu kembali terbuka dan memandang langit biru yang cerah hanya beberapa awan-awan tipis tak mampu menutupi permukaan langit. Seorang anak perempuan kecil berlari kearahnya, mungkin usianya baru tiga tahunan mengenakan baju terusan berwarna merah dan memegang pita merah yang terlepas dari rambutnya itu.

Anak itu memberikan pita itu dan menunjuk-nunjuk rambutnya seolah meminta Vincent memasangkan pita itu kembali. Namun apa yang dapat Vincent lakukan, ia bukan orang berpendidikan yang tau cara berpakaian atau sekedar memasang pita rambut. Ia tak pernah mengenal anak kecil dalam hidupnya, sembari tersenyum Vincent memberikan kembali pita itu dan mengambil satu buah tomat yang ada dalam kantong plastik ditangannya dan ikut diberikan kepada anak perempuan kecil itu. Dari kejauhan tampak seorang perempuan muda memanggil anak perempuan tadi dengan panggilan Elly, dan dengan ramah meminta maaf kepada Vincent perihal anak perempuan itu. Lalu ikut duduk di samping Vincent dan mengambil pita merah ditangan Elly lalu mengikatkan di rambut ikal sebahu milik anak perempuan itu.

Vincent mencoba menggerakkan lidahnya untuk berbicara sesuatu, tapi ia tak tau harus memulainya dari mana karena tak sekalipun ia pernah berbicara dengan seorang perempuan selain Allice, seorang perawat perang di Vietnam namun hanya berbicara sebatas luka salah seorang rekannya yang tertembak ketika itu. Namun perempuan yang mengenakkan gaun itu menoleh kearahnya dan mulai berbicara, “terima kasih atas pemberian anda Tuan, perkenalkan saya Ivana Petterson” ucapnya sambil tersenyum. Vincent tersentak dan kebingungan, haruskah ia mengulurkan tangannya memperkenalkan diri atau hanya diam dan menyebutkan nama saja.

 “maaf, memang tak seharusnya saya yang memulai memperkenalkan diri tapi saya tau anda orang baik. Dan saya lihat anda bukan orang sini” lanjut Ivana sembari memangku Elly yang sibuk dengan tomat ditangannya. Sambil terbata, Vincent mulai berbicara halus, sangat halus dan lembut tutur katanya. “maaf nyonya, nama saya Vincent Wallace dari Irlandia, saya seorang pandai besi” jawab Vincent sambil menundukkan kepalanya.

Ivana tersenyum dan berkata, “Iva, itu panggilan saya dan saya belum menikah mungkin anda bersedia untuk tidak memanggil saya dengan sebutan nyonya lagi karena Elly adalah adik sepupu saya”. “eh, maaf saya tak bermaksud begitu”, lanjut Vincent dan kembali menundukkan pandangannya.

“saya kira Elly adalah putri anda, maaf saya benar-benar tak bermaksud merendahkan anda”, dengan muka yang tertunduk serba salah. “lupakan itu, mampirlah dirumah kami”, lanjutnya “keluarga kami akan sangat senang kedatangan tamu dan rumah kami hanya beberapa menit perjalanan kearah timur”. Vincent semakin kebingungan mengingat ia adalah pendatang baru dan perawakannya mungkin terlihat sebagai perampok dari pada orang-orang terhormat dipinggiran grande yang mengenakan jubah dan topi tinggi dan menggunakan kereta kuda sebagai alat transportasi pribadinya.

Dalam pikirannya berkecamuk tanda Tanya, apa yang harus ia lakukan dan yang mesti ia perbuat karena itu pertama kalinya ia berbicara dengan seorang wanita itupun baru ia temui. Telihat Ivana sebagai pribadi yang ramah dan baik, berpendidikan dan cara berjalannya yang menunjukkan bahwa ia bukan orang dari kalangan biasa tak luput dari pandangan mata Vincent ketika Iva datang tadi. Perempuan itu putih, bola matanya biru, berambut ikal coklat terang dan panjang, memakai gaun panjang abu-abu kotak-kotak coklat dengan sejenis konde dibagian belakang rambutnya. Beberapa helai rambut ikal dibiarkan jatuh dibagian depan mungkin sebangsa poni memperlihatkan karakter etnik Venice yang sangat tampan dan cantik dengan mata birunya.

Vincent kembali bertanya, “apakah tidak memberatkan anda dan keluarga?”.

 Lalu Iva bangkit dan berdiri memegang tangan Elly disebelahnya dan berkata, “tak akan ada yang merasa diberatkan, kami akan menjamu anda sebaik mungkin tuan Wallace” jawab Iva dan tersenyum.

Dan Vincent pun ikut membalas senyum Iva, dan mulai mengikuti Iva dari belakang, Langkah kaki Iva diperhatikannya karena ia tak berani memandang orang lain secara langsung. Melewati jembatan melengkung dari batu bata yang terlihat kokoh itu, Vincent kembali terkesima melihat peradaban yang baru dilihatnya. Ada banyak hal-hal yang asing dipandangan matanya, ditambah aliran tenang air canale grande yang berkilau memantulkan bayangan matahari yang seolah-olah memperlihatkan bahwa Venice memiliki dua buah matahari serta bayangan bangunan-bangunan yang seakan menunduk dan bergelombang di atas permukaan air setelah dilewati sebuah perahu bermotor yang melaju cepat kearah selatan. Dari kejauhan lewat sebuah kereta kuda yang berbeda dengan sekian banyak kereta kuda yang lalu lalang setiap harinya di jalanan kota Venezia, ditarik kuda putih yang sangat besar dengan kaki-kaki kekar membawa kereta yang indah mungkin terbuat dari Oak*.

 Tirainya yang berwarna emas memberikan kesan hedonisme dari pemilik dari kereta itu, ukiran-ukiran klasik yang juga bertatakan emas khas kebangsawanan tertata rapi dan sangat kontras dengan kereta yang di labur hitam. Pejalan kaki yang memadati jalan tersebut melangkah memberi jalan dan seraya menundukkan kepala mereka sejajar dengan bahu, kereta melaju kearah timur demikian juga hal nya Vincent sehingga Ia tak melihat bahwa salah satu kuda yang menarik kereta itu nyaris saja menyenggolnya dan membuat kuda yang lain ikut panik. Terdengar teriakan histeris dari dalam kereta tersebut, lalu beberapa buah koin berserakan dari atas kereta itu, tak lain adalah koin milik bangsawan itu.

Dengan sigap Vincent melompat dan menangkap kuda-kuda yang liar karena terkejut tersebut dan menenangkannya, Vincent sangat mengenal cara menjinakkan kuda karena kebanyakan kuda-kuda liar dan baru di daratan inggris raya selalu memesan ladam atau sepatu kuda pada orang tua angkatnya. Vincent selalu mendapat bagian memasang sepatu itu meski usianya kala itu masih belasan tahun sehingga sangat terlihat janggal dengan postur kuda-kuda kerajaan yang sangat besar-besar. Vncent juga mengumpulkan koin-koin yang berserakan di sekitaran jalanan itu, amun terdengar teriakan dari salah seorang pejalan kaki, “pencuri…..” membuat riuh seluruh pejalan kaki dan pemilik dari kereta tersebut.

Para pejalan kaki berlari ke arah Vincent dan beramai-ramai hendak memukulnya, Iva yang juga ikut ketakutan hanya mencoba memeluk Elly dan menutup mata anak perempuan kecil itu. Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Vincent yang masih kebingungan dengan semua yang tengah terjadi saat itu, namun Ia masih sempat menangkis pukulan dan terjangan kaki berikutnya yang mengarah kepadanya. Lalu dari dalam kereta kuda tersebut, tersingkap tirai yang menutup pintu kereta tersebut dan keluarlah seorang laki-laki tampan mengenakan jas berwarna krem terang dan sangat berbeda dengan penduduk asli yang menggunakan jas berwarna gelap seperti coklat atau hitam. Dengan cepat pria itu melompat ketengah kerumunan dimana Vincent terkepung dan menerima pukulan-pukulan kencang yang membuat Ia terkapar tak berdaya.

Sang pria berteriak agar massa tersebut berhenti memukuli dan dengan teratur sambil membungkukkan badan para pejalan kaki tadi yang pada umumnya berbadan besar dan kekar sambil berkata “Tuan muda” dengan suara lembut nyaris tak terdengar. Lalu pria itu mengangkat kepala Vincent dan mengelap darah segar yang mengucur dari mulut Vincent. Dari dalam kereta keluar seorang wanita muda yang cantik, sangat serasi dengan gaun berwarna putih yang di padu dengan pita dan aksesoris berwarna pink sambil membawa sebuah kain lap dan teko yang berisi air minum, dan lalu diserahkannya kepada sang pria yang tadinya di panggil tuan muda. Iva yang tadi hanya dapat memeluk Elly, sekarang mulai mendekat.

Menundukkan kepala seperti hal yang juga dilakukan orang-orang yang tadi memukul Vincent dan berkata “Maafkan saya tuan, Pemuda itu bersama kami dan dia bukan pencuri” ujarnya masih dalam keadaan menunduk, lalu mengangkat kepalanya dan melanjutkan pembicaraan setelah Sang Pria tadi menoleh kearahnya, “kalau tuan tidak keberatan biar saya yang mengurus lukanya” lanjut Iva. Namun raut heran dari semua orang yang ada di sekitar tempat kejadian juga tak kalah dari raut wajah Iva yang sampai membuka sedikit bibirnya, setelah melihat sang pemuda kaya itu tersenyum dan berkata “Saya sudah tau, dan sebagai permintaan maaf saya biarkan kami membawanya kekediaman kami dan akan sangat membantu jika anda bersedia ikut nona……”.

 “Iva, Ivana Petterson”, spontan Iva menjawab tanpa di minta. Lalu sang bangsawan mengangkat tubuh Vincent dibantu sais yang semula masih takut-takut untuk turun tangan.

“Siapa?anda menyebut Petterson?” lanjut sang bangsawan. Iva yang semakin Heran atas reaksi dari bangsawan tersebut.

Memang tak banyak di daerah Venice yang menggunakan nama belakang itu, karena orang tua laki-laki Iva yang juga berhak menggunakan nama Petterson berasal dari selatan, Pescara daerah pantai yang langsung menghadap ke selat Gibraltark.

“Edward akan mengantarkan anda pulang nanti” kata bangsawan itu mengatakan bahwa sais kereta kuda yang bekerja untuknya membuat Iva semakin penasaran. Lalu kereta melaju kearah timur dengan kencang, sang wanita yang datang bersama bangsawan itu menuangkan teh kedalam cangkir emas yang tadi berada di bofet mini yang ada di belakang tempat duduk mereka.

 “minumlah nona, teh hijau orang timur dipercaya menyehatkan badan”, kata sang wanita dan tersenyum dengan sangat cantik dan ramah itu sehingga membuat Iva jadi salah tingkah dan hanya berkata “terima kasih nyonya….” Dengan suara yang nyaris tremor dan mengambil cangkir yang terbuat dari emas tersebut.

“perkenalkan saya Ellena Daniella, sebenarnya lebih tepatnya nona karena kami baru akan menikah musim semi nanti” ujar Ellena. “panggil saja Ellena, saya dari Irlandia” lanjutnya. “Maaf Nona Ellena, saya tak bermaksud apa-apa”, terdengar suara Iva lembut. “Saya Danielle Moratti, mungkin anda pernah mendengar nama ayah saya Federico Moratti” ujar sang bangsawan sambil tersenyum. Seolah menandakan keramahan yang tak Iva lihat dari banyak bangsawan-bangsawan yang dikenalnya selama hidupnya di Venice. Sebuah pengalaman yang baru bagi Iva maupun Elly menaiki sebuah kereta kuda layaknya kereta kencana sebuah kerajaan yang hanya mampir dalam angan-angannya semenjak kecil. Ivana sejak kecil hanya tinggal bersama Ibunya dan 4 orang saudara laki-lakinya di bagian timur Venezia. Ibunya, Allyana adalah seorang penjahit pakaian dipinggiran kota harus berusaha keras menghidupi dan membesarkan anak-anaknya meski anak pertama Fredrich (Freddy) dan kedua Andrea, telah tinggal bersama istri-istri mereka meninggalkan Venice dan sampai sekarang menetap di kota Roma.


Sedang Anders, Willy yang masih teramat kecil apalagi Ivana, yang tidaklah sangat mengenal siapa ayahnya sejak Aitor mengikuti wajib militer pada awal 1930. Tak ada kabar sejak keberangkatan Aitor. Ia adalah seorang pengurus kuda-kuda para bangsawan yang sangat loyal terhadap pekerjaannya, hal itu membuat mereka sekeluarga harus merasakan pahitnya kehilangan orang yang mereka sayangi dan menjadi tulang punggung keluarga pada saat itu. Iva tumbuh besar dan dapat bersekolah disebuah sekolah elit karena ibunya adalah penjahit seragam-seragam sekolah tersebut sehingga Iva diberi keringanan oleh sang kepala sekolah.

Sungguh sebuah keberuntungan bagi keluarga mereka sebab anak perempuan satu-satunya itu dapat memperoleh pendidikan disekolah mahal yang mungkin hanya ada dalam angan-angan para orang tua yang kurang beruntung seperti keluarga Petterson. Willy, William Petterson yang merupakan anak keempat, meninggal ketika baru berusia 10 tahun juga akibat virus kolera yang berasal dari Afrika itu. Sejak itu Ivana kecil memutuskan untuk tak melanjutkan sekolahnya dan mengatakan akan menemani dan membantu ibunya yang semakin hari semakin tua. Tak banyak lagi pekerjaan rumah yang dapat Ibunya lakukan lagi, seperti mencuci dan memasak.

Karena Allyana memiliki masalah dengan paru-parunya, dulu Ia pernah melakukan operasi, Ayah Aitor, orang tua suaminya adalah seorang dokter perang yang cukup dikenal dari Pescara. Berbekal peralatan seadanya mertuanya itu berhasil memperbaiki system kerja paru-parunya dengan melapisi dinding paru-paru dengan menggunakan plastik. 2 dekade berlalu, Allyana kembali merasakan hal yang pernah Ia rasakan setelah 8 tahun hidup tanpa Aitor.

Jumat, 02 November 2012

I. Venice dan Jernihnya Canale Grande.

Matahari bersinar cerah dan menyilaukan pandangan sehingga nyata terlihat bola mata Vincent yang berwarna abu-abu itu seolah tersamarkan. Pemuda itu seakan tak bergerak dalam duduknya karena teriknya siang yang menyengat, sambil menerawang jauh, mengingat dan membayangkan kota demi kota yang telah dilewatinya untuk sampai di Venezia, Sungguh sebuah perjalanan melelahkan melepuhkan telapak kaki. Tak ada desiran angin yang meniup dan berhembus didekatnya, tak ada lambaian daun-daun dan pohon-pohon besar yang ditanami sejajar di sepanjang gang kecil itu. Sehingga tak ada penghalang sinar matahari yang langsung menusuk ke sela pori-pori tangannya. 

Sementara itu dikejauhan terlihat puluhan kaki anak-anak beradu, menyentak dan menjegal sebuah bola karet. Bola yang sebentar terhenti disela kaki-kaki kecil itu kadang melambung jauh tanpa terkawal, diselingi sorak dan selebrasi riang setiap salah satu kubu mencetak gol ke gawang lawannya. Kaki-kaki kecil itu tak henti menari menunjukkan gocekan-gocekan maut yang mereka peragakan meniru pemain-pemain bola profesional yang mereka kenal satu persatu seperti Giovanni Ferrari, Virginio Rosetta, atau Umberto Caligaris yang membawa Italia juara Piala Dunia 1934 dan 1938. Dibalik lapangan kota yang dijadikan arena bermain bola itu, terdapat jalan yang merupakan akses penting lalu lintas yang sangat padat. Jalan yang saat ini di lewati seorang pedagang dengan dua buah keranjang besar berisi penuh tomat di samping kiri dan kanan sebuah sepeda using yang sedang dikayuhnya. Sampai tiba-tiba bola yang dimainkan anak-anak dilapangan itu melayang menghantam sepeda sang penjual tomat sehingga jatuh dan menumpahkan tomat-tomat dagangannya seperti kelereng yang jatuh dari atas meja makan dan menggelinding saling berbenturan.

Tanpa dikomandoi, Vincent berlari menembus lapangan bola itu menuju kejalan dimana sang penjaja tomat terjatuh beserta tomat-tomat dagangannya. Vincent membantunya berdiri, lalu membalikkan keranjang yang tadinya berisi tomat merah sebesar bola tenis. Lalu vincent mulai memunguti satu per satu buah merah itu yang masih utuh, tak banyak memang yang tersisa, tak sampai tiga perempat keranjang yang benar-benar utuh dan keranjang satunya hanya setengah saja yang berisi buah setengah rusak. Lalu sendiri Vincent membersihkan jalan yang sempat terhenti akibat insiden tersebut dari sisa-sisa jus tomat versi calon pemain sepak bola penghuni klub besar seperti Juventus dan AC Milan itu dengan dahan kayu yang ditemukannya dari tempat sampah tak jauh dari tempat itu. Banyak orang melihat kejadian itu, tak ada yang menggubris dan turun tangan membantu, memang sebuah keanehan kota-kota besar yang juga pernah di temuinya seperti Dublin, London, Frankfurt, Madrid dan Andalusia.

Tak mudah menemukan keramah-tamahan kota-kota besar itu terhadap pendatang baru seperti Vincent pastinya. Tak ada luka serius pada pedagang itu, namun Vincent tetap tak tersenyum dan mengkhawatirkan pedagang itu yang hampir kehilangan setengah tomat dagangannya. Namun tak sedikitpun tampak wajah kecewa dari sang penjual tomat itu, senyum itu memecah kebuntuan antara mereka dan sebagai ucapan terima kasih Vincent di tawari sekantong tomat oleh sang penjaja tomat tersebut, dan ditawari menginap di tempat sang penjual tomat setelah mengetahui Vincent adalah pendatang baru dari Irlandia. Setelah berbicara beberapa saat sang penjaja tomat itu pamit dan melanjutkan perjalanannya karena tawaran untuk menginap di tolak secara halus oleh Vincent yang takut merepotkan orang lain. Berbekal sekantong tomat hasil pemberian pedagang tomat yang ditolongnya tadi, Vincent masih mencoba menahan haus dan lapar sebab belum ada yang masuk dan mengisi perutnya sejak menginjakkan kaki di kota bersejarah venezia itu. Vincent adalah seorang pandai besi yang cukup disegani di daratan inggris raya. Setelah wajib militer yang menyisakan beberapa orang saja dari daerahnya, tak banyak yang dapat di lakukan di tempat tinggalnya yang cukup jauh dari keramaian itu. Mau tidak mau Vincent yang tak memiliki sanak saudara itu memutuskan untuk pergi dan mengadu nasib di tempat lain, dan setelah perjalanan selama hampir dua kali musim panas berakhir Vincent pun sampai di venezia. Kota bersejarah ini menawarkan jutaan daya tarik untuk setiap pendatang baru yang datang berkunjung maupun yang hanya singgah sementara di tempat itu.

Vincent menatap jauh mengamati tiap detail kota Venezia yang juga di kenal dengan nama Venice dengan sesekali melayangkan pandangan jauh kearah pedagang tomat tadi yang sudah hilang dari pandangan matanya. Sebuah peradaban yang indah dari kota itu, sungai yang airnya jernih seperti kristal itu juga di sibukkan dengan aktivitas penduduknya yang menggunakan perahu untuk perdagangan serta yang hendak bepergian ketempat lain. Sementara di sepanjang pinggiran sungai di gunakan untuk mencuci dan mandi, anak-anak riang berkejar-kejaran berenang disungai yang cukup besar itu. Jembatan-jembatan melengkung dari susunan batu bata membelah sungai menjadi beberapa bagian sebagai penghubung kota yang terbelah sungai besar yang di sebut Canale Grande itu. Terlalu besar harapan pemuda itu untuk dapat meneruskan hidupnya sejak melangkahkan kaki-kaki nya menjauhi pedalaman Irlandia yang tak sekalipun dia tinggalkan selain wajib militer yang membawanya jauh ke negeri tropis Vietnam. Banyak pelajaran yang Ia dapatkan dari perang yang memakan ribuan bahkan jutaan orang tersebut, menelan biaya yang tak sedikit, menyisakan isak tangis mereka yang kehilangan anak dan suami, serta kerugian-kerugian yang ditimbulkan hanya untuk kepentingan kalangan-kalangan elit saja.

Namun pemikiran Vincent yang tak pernah mengenyam pendidikan formal itu semakin dewasa saja di usia nya yang sudah memasuki 24 tahun. Pemuda itu tak pernah tau kapan tepatnya dia dilahirkan, siapa orang tuanya, dan dimana kampung halamannya, yang pasti Vincent dibesarkan oleh seorang pandai besi tua yang amat disegani di daratan Inggris Raya. William Wallace, begitu pandai besi tua itu dipanggil orang-orang yang di temui Vincent. Will adalah seorang berperawakan tinggi besar, berjenggot putih senada dengan rambutnya yang berkilau perak menandakan usianya yang memang tak muda lagi, will yang selalu mengenakan jubah panjang yang hanya bias mengangguk atau mengelengkan kepalanya ketika berkomunikasi dengan orang lain. Will kehilangan lidahnya saat diketahui sebagai orang terakhir yang menyimpan seluruh rahasia Kerajaan Wales sehingga polemik yang terjadi didalam Kerajaan tak pernah terpecahkan hingga sekarang. Pria itu meninggal akibat kholera yang banyak menelan korban di awal tahun 1938.

Vincent berhenti menerawang jauh, sekantong tomat yang merah berkilat menjadi topik pemikirannya. Harus ia apakan tomat-tomat itu? Harganya mungkin tak seberapa, mengingat perutnya yang semakin lapar saja. Vincent mulai melangkah ke sebuah jenjang menuruni Canale Grande, diraupnya air yang sangat jernih itu dan meminumnya serta mengguyur tubuh kekarnya mencoba mengusir panas matahari yang terasa semakin dekat beberapa jengkal saja di atas kepala. Diperhatikan bayangannya dipermukaan air grande tampak cambang dan kumis tak terawat bergelantungan di dagu pemuda itu, hitam legam warna kulitnya menunjukkan bahwa ia bukan orang yang menjalani hidup dengan bersenang-senang. Sebuah liontin berbentuk botol kecil tergantung di kalung perak sangat kontras dengan warna kulitnya, kalung yang diterima langsung dari tangan Will ketika orang tua itu menghembuskan nafas terakhirnya.